Skip to main content

Nama Gereja yang Dilengkapi dengan Desain Arsitektur Jawa

Nama Gereja yang Dilengkapi dengan Desain Arsitektur Jawa

Penyebaran agama menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi budaya di suatu daerah. Penyebaran agama Katolik dan agama Kristen di pulau Jawa misalnya, budaya Jawa melekat erat dengan bangunan gereja yang ada di Pulau Jawa. Bangunan gereja dengan budaya Jawa dikenal memiliki penampilan yang berbeda dan terkesan unik.

Dengan desain arsitektur tersebut, penampila gereja terlihat lebih nyaman dan syarat akan budaya. Karena nuansa nyaman yang dihadirkan, banyak penganut agama Katolik beserta dengan pemeluk agama Kristen yang merasa tertarik melakukan ibadah di gereja tersebut.

Gereja Puh Sarang yang berada di Kediri merupakan salah satu gereja yang dibangun dengan menggunakan desain arsitektur Jawa. Desain yang diciptakan oleh Henri Maclaine Pont dan Romo Jan Wolters CM tersebut didirikan di tahun 1963. Sentuhan budaya Jawa yang melekat pada gereja terasa sangat jelas.

Unsur Jawa yang berada di gereja tersebut merupakan bentuk kecintaan kedua tokoh tersebut akan budaya Jawa. Jika Henri Maclaine Pont tertarik akan percandian yang berada di Jawa, Romo Jan Wolters sangat mencintai budaya Jawa. Tak mengherankan, unsur dan budaya Jawa melekat dengan erat pada gereja yang mereka bangun. Selain gereja Puh Sarang, ada beberapa nama gereja lain yang dilengkapi dengan desain arsitektur Jawa, diantaranya:

  • Gereja Ganjuran

Gereja Ganjuran menjadi nama gereja yang dikenal memiliki desain arsitektur Jawa yang tinggi. Gereja tertua yang berada di Bantul ini memiliki ukiran Jawa pada bangunan dan menggunakan gaya bangunan joglo. Gereja yang dibangun pada lahan dengan luas 600 m² ini dipenuhi dengan ukiran berbentuk wajik. Di bagian altar gereja terdapat tokoh malaikat yang mengenakan busana tokoh wayang.

Gereja Ganjuran

Gereja Ganjuran sendiri dibangun pada tahun 1924 dan dibuat oleh arsitek bernama J Yh van Oyen asal Belanda. Meskipun didesain oleh arsitek berkebangsaan Belanda, ukiran pada bangunan gereja dibuat langsung oleh seniman asal Jawa. Tiga tahun selama pembangunan gereja, Iko sang pembuat ukiran menciptakan candi yang diisi dengan patung Yesus dan patung Maria.

  • Gereja Karangjoso

Gereja Karangjoso berada di kota Purworejo dan menjadi gereja tertua yang ada di pulau Jawa. Kyai Sadrach Soepranoto merupakan sosok penyebar agama Kristen dan menjadi tokoh penting dalam pembangunan gereja tersebut. Gereja dibangun dengan gaya joglo dan memiliki atap dengan tiga tingkat. Di bagian interior gereja terdapat tiang induk berbentuk bujur sangkar.

Gereja Karangjoso

Sepintas gereja Karangjoso terlihat seperti bangunan masjid. Jika tidak ada salib di bagian atap, bangunan tersebut tak akan nampak seperti gereja. Pada bagian belakang gereja ada sebuah pendopo kecil yang tadinya merupakan teras rumah milik Kyai Sadrach Soepranoto. Di dalam gereja juga terdapat tempat yang memuat peninggalan sang pendiri gereja. Kita juga akan melihat terdapat bangunan tempat tinggal milik keturunan Kyai Sadrach di sekitar gereja.

Gereja yang dibangun dengan desain arsitektur Jawa tersebut terkesan sederhana namun elegan. Sebagai gereja dengan unsur budaya Jawa, bukan hal yang aneh jika kita menemukan budaya Jawa pada bangunan gereja tersebut. Dengan budaya Jawa yang melekat pada gereja, kebudayaan Jawa tidak akan mudah menghilang. Budaya Jawa dapat terus lestari dengan selalu mendekatkan diri kepada Tuhan. Budaya Jawa yang melekat pada gereja memberikan informasi kepada kita bahwa budaya tetap dapat lestari jika setiap bangunan penting yang ada dilengkapi dengan budaya Jawa.